Diabetes

2011
10.03

Diabetes is a disease in which blood glucose levels are above normal. Most of the food we eat is turned into glucose, or sugar, for our bodies to use for energy. The pancreas, an organ that lies near the stomach, makes a hormone called insulin to help glucose get into the cells of our bodies. When you have diabetes, your body either doesn’t make enough insulin or can’t use its own insulin as well as it should. This causes sugar to build up in your blood.

Anyone can develop diabetes, but it is more common in people who are: overweight, not physically active, and hispanic/latino (and other ethnicities) or who have: a family member with diabetes, had diabetes when pregnant, and blood glucose levels that are higher than normal but not yet high enough to be diagnosed as diabetes (pre-diabetes).

There are two main types of diabetes. In individuals with diabetes, the proses to produce of insulin is impaired. Diabetes develops when the pancreas fails to produce sufficient quantities of insulin – Type 1 diabetes or the insulin produced is defective and cannot move glucose into the cells – Type 2 diabetes. Either insulin is not produced in sufficient quantities or the insulin produced is defective and cannot move the glucose into the cells.

Type 1 diabetes, which was previously called insulin-dependent diabetes mellitus (IDDM) or juvenile-onset diabetes, may account for about 5% of all diagnosed cases of diabetes. It’s occurs most frequently in children and young adults, although it can occur at any age. Type 2 diabetes, which was previously called non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM) or adult-onset diabetes, may account for about 90% to 95% of all diagnosed cases of diabetes. Type 2 diabetes primarily affects adults, however recently Type 2 has begun developing in children. There is a strong correlation between Type 2 diabetes, physical inactivity and obesity. Gestational diabetes is a type of diabetes that only pregnant women get. If not treated, it can cause problems for mothers and babies. Gestational diabetes develops in 2% to 10% of all pregnancies but usually disappears when a pregnancy is over. Other specific types of diabetes resulting from specific genetic syndromes, surgery, drugs, malnutrition, infections, and other illnesses may account for 1% to 5% of all diagnosed cases of diabetes.

Diabetes can cause serious health complications including heart disease and stroke; eye problem that can lead to trouble seeing or going blind; nerve damage that can cause your hands and feet to feel numb. Some people may even lose a foot or a leg; kidney problems that can cause the kidneys to stop working; gum disease and loss of teeth; many people with diabetic nerve damage have trouble having sex; may contribute to depression and at the same time, people with depression may be more likely to develop diabetes; and can make the immune system more vulnerable to severe cases of the flu.

Diabetes can affect any part of our body. The good news is that we can prevent most of these problems by keeping our blood glucose (blood sugar) under control, eating healthy, being physical active, working with our health care provider to keep our blood pressure and cholesterol under control, and getting necessary screening tests.

As yet, there is no “cure” for either type of diabetes, although there are many ways of keeping diabetes under control. Diabetes treatments are designed to help the body to control the sugar levels in the blood. The treatment for diabetes, among others: Healthy eating, physical activity, and insulin injections are the basic therapies for type 1 diabetes. The amount of insulin taken must be balanced with food intake and daily activities. Blood glucose levels must be closely monitored through frequent blood glucose testing. Healthy eating, physical activity, and blood glucose testing are the basic therapies for type 2 diabetes. In addition, many people with type 2 diabetes require oral medication, insulin, or both to control their blood glucose levels.

People with diabetes must take responsibility for their day-to-day care, and keep blood glucose levels from going too low or too high. People with diabetes should see a health care provider who will monitor their diabetes control and help them learn to manage their diabetes. In addition, people with diabetes may see endocrinologists, who may specialize in diabetes care; ophthalmologists for eye examinations; podiatrists for routine foot care; and dietitians and diabetes educators who teach the skills needed for daily diabetes management.

References:

http://www.cdc.gov/diabetes/index.htm

http://www.diabeteswellness.net/Portals/0/files/DRWFUSdiabetes.pdf

http://www.ndep.nih.gov/i-have-diabetes/LearnAboutDiabetes.aspx

 

Laode Nurdiansyah – Major in Applied Meteorology, Department of Geophysics and Meteorology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University.

 

Download PDF Indonesian Version

Tanggung Jawab Sosial dan Etika Manajerial

2011
09.28

Management Class (Kuliah Manajemen) – Departement of Management, College of Economics and Management – Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

(www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

Session 5: Social Responsibility and Managerial Ethics

Pertanyaan:

Bagaimanakah cara menciptakan dan mengembangkan nilai bersama agar nilai organisasi tercermin dalam keputusan dan tindakan para karyawan?

Jawaban:

Cara untuk  menciptakan dan mengembangkan nilai bersama pada perusahaan antara lain:

1. Libatkan seluruh karyawan dalam perusahaan.

2. Biarkan karyawan (secara per unit atau departemen) memikirkan dan membentuk nilai perusahaan.

3. Bersiaplah menerima tentangan dari karyawan.

4. Buatlah pernyataan nilai perusahaan pendek.

5. Hindari pernyataan bersayap.

6. Hindari penggunaan referensi agama dalam menyusun pernyataan nilai.

7. Ujilah pernyataan tersebut.

8. Terapkan!

Laode Nurdiansyah – Major in Applied Meteorology, Department of Geophysics and Meteorology,  Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

 

Managing in a Global Environment

2011
09.21

Management Class (Kuliah Manajemen) – Departement of Management, College of Economics and Management – Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

(www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

Session 4

 

Dalam mengelola suatu lingkungan yang lebih luas cakupannya,  dalam lingkungan global misalnya, tantangan yang dihadapi akan menjadi lebih besar. Hal ini terjadi salah satunya karena adanya perbedaan-perbedaan, baik dalam hal budaya, politik maupun ekonomi. Beruntunglah Bangsa Indonesia memiliki bahasa persatuan yang lebih dikenal dengan Bahasa Indonesia sehingga perbedaan-perbedaan yang ada tidak menjadi penghalang kemajuan tetapi justru menjadi pemicu semangat untuk bersatu dan mempersatukan diri demi cita-cita dan tujuan bersama dalam hal ini sebagaimana yang tercantum dalam dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yaitu terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal tersebut terlihat bahwa tidak ada pihak-pihak atau suku-suku di Indonesia yang memprotes dijadikannya bahasa Melayu yang lebih dikenal kemudian dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kelebihan lain dari Bahasa Indonesia ialah sifatnya yang egalitarian, mudah (simple) dan dapat diterima.

Selain adanya perbedaan-perbedaan tersebut, tantangan lain dalam mengelola lingkungan global yaitu munculnya para pesaing baru secara tiba-tiba,  adanya peningkatan ketidakpastian, ketakutan dan kegelisahan yang dialami masyarakat, penyesuaian terhadap perubahan lingkungan global serta yang paling penting yaitu menghindari “parokialisme”. Parokialisme merupakan sudut pandang (perspektif) yang memiliki pandangan sempit terhadap dunia atau dengan kata lain tidak melihat sudut pandang orang lain tetapi melihat dunia dari sudut pandang dirinya saja serta tidak mengakui bahwa orang lain hidup dan bekerja dengan cara yang berbeda. Secara umum, terdapat tiga sudut pandang dalam melihat dunia yaitu sikap etnosentris, polisentris dan geosentris. Sikap etnosentris ialah suatu keyakinan parokialistis yang memandang bahwa pendekatan dan praktek kerja yang paling baik adalah yang berasal dari negara asalnya. Sikap polisentris merupakan pandangan bahwa para manajer di negeri tuan rumah (host country) lebih mengetahui pendekatan dan praktik terbaik untuk menjalankan bisnis sehingga orang-orang lokal lah yang ditempatkan sebagai manajer karena mereka dinilai lebih tahu situasi dan kondisi di daerahnya. Terakhir, sikap geosentris yaitu suatu pandangan berorientasi dunia yang memusatkan perhatian pada penggunaan dan pendekatan orang yang terbaik dari seluruh dunia sehingga siapa pun bisa bekerja dan menjadi manajer asalkan memiliki keahlian atau skill yang lebih baik.

Dampak dari adanya pengelolaan pada suatu lingkungan global atau lebih dikenal dengan globalisasi ialah timbulnya kerja sama atau perjanjian perdagangan yang mempengaruhi persaingan (kompetisi) global, baik untuk skala regional maupun secara global. Beberapa contoh perjanjian perdagangan regional, yaitu: The European Union (EU), merupakan pasar tunggal yang menghapuskan hambatan dalam hal bepergian, pekerjaan, investasi dan perdagangan sebagai upaya untuk menghadapi kekuatan ekonomi  dari AS dan Jepang; North American Free Trade Agreement (NAFTA), menghubungkan perekonomian AS, Meksiko dan Kanada dengan menghapuskan hambatan atas perdagangan bebas; blok perdagangan bebas di Amerika Latin seperti Free Trade Area of Americas (FTAA) dan Southern Cone Common Market (Mercosur); Association of Southeast Asian Nations (ASEAN); dan African Union. Sedangkan perjanjian perdagangan global misalnya The World Trade Organization (WTO) yang berfungsi sebagai organisasi global yang mengatur perdagangan antar negara, mengawasi dan mempromosikan perdagangan dunia dan saat ini memiliki 145 negara anggota.

Organisasi global terdiri dari tiga jenis, yaitu: Multinational Corporation (MNC), Transnational Corporation (TNC) dan Borderless Organization. Pertama, Multinational Corporation (MNC) merupakan perusahaan dengan pendekatan etnosentris karena menjalankan operasional di banyak negara tetapi pembuatan keputusan utama dilakukan di perusahaan di negara asal. Contoh: Sony, ExxonMobil, Deutsche Bank. Kedua, Transnational Corporation (TNC) merupakan organisasi dengan pendekatan polisentris karena menjalankan operasional di banyak negara dengan cara mendesentralisasikan pengelolaan perusahaan (terutama strategi pemasaran) pada manajemen lokal. Contoh: McD. Ketiga, Borderless Organization atau organasasi tanpa batas negara merupakan perusahaan dengan pendekatan geosentris karena menjalankan operasional di banyak negara dengan cara menghilangkan hambatan geografis yang bersifat artifisial melalui penghapusan pembagian divisi berdasarkan negara (penghapusan divisi struktural).

Terdapat tiga tahap proses globalisasi atau tahapan-tahapan perusahaan menjadi global yaitu sebagai berikut:

Tahapan I – Passive Response:

–   Melakukan ekspor (menjual produk yang dibuat di dalam negeri ke luar negeri) atau impor (menjual produk yang dibuat di luar negeri di pasar dalam negeri)

–    Merupakan langkah yang membutuhkan investasi paling minim dan dengan risiko yang paling minim pula. Umumnya perusahaan memulai bisnis global dengan cara ini.

Tahapan II – Initial Overt Entry (Langkah awal memasuki pasar luar negeri dengan cara yang lebih jelas/terbuka)

–    Upaya yang dapat dilakukan:

¤ Menjual produk di pasar asing dengan cara mengirimkan karyawan perusahaan ke luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis secara rutin atau melalui perantaraan agen/perwakilan di negara asing.

¤  Membuat kontrak dengan perusahaan lain di luar negeri untuk membuat produk perusahaan. Contoh: Nike.

–    Perusahaan tidak memiliki karyawan di luar negeri.

Tahapan III – Established International Operations (Operasional secara internasional):

–    Merupakan upaya paling intensif dalam mengejar pasar global.

–    Upaya-upaya yang mungkin dilakukan:

¤  Menjual lisensi/hak waralaba, yakni menjual hak kepada perusahaan lain untuk menggunakan nama merek, teknologi, atau spesifikasi produk/jasa perusahaan. Lisensi, untuk perusahaan manufaktur sedangkan waralaba untuk perusahaan jasa.

¤ Aliansi Strategis, merupakan kemitraan antara perusahaan dengan perusahaan asing, dimana kedua perusahaan saling berbagi sumber daya dan pengetahuan serta risiko dan imbal hasil.

¤ Perusahaan Patungan (Joint Venture), antara perusahaan dengan perusahaan asing sepakat untuk membentuk perusahaan baru yang terpisah dan independent dari kedua perusahaan.

¤ Anak Perusahaan di Luar Negeri (foreign subsidiary), membutuhkan investasi langsung di negara lain untuk pendirian kantor atau fasilitas produksi baru yang terpisah & independen. Upaya ini merupakan upaya yang membutuhkan paling banyak sumber daya dan memiliki risiko terbesar.

Peralihan dari satu tahapan ke tahapan selanjutnya membutuhkan investasi yang makin besar dan dengan risiko yang kian besar pula.

Hal paling penting yang harus dilakukan oleh setiap individu, organisasi maupun negara dalam mengelola lingkungan global (globalisasi) ialah melakukan reposisi dalam menghadapi tantangan-tantangan sekaligus harus mampu memanfaatkan setiap kesempatan yang diakibatkan dengan kata lain harus mampu melihat peluang dalam setiap tantangan bukan sebaliknya, melihat tantangan dalam setiap peluang.

Laode Nurdiansyah – Department of Geophysics and Meteorology,  Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

 

Ekologi Spasial dan Konservasi Burung Laut Menghadapi Perubahan Iklim Global: Sebuah Tinjauan

2011
09.17

Lautan telah lama dianggap sebagai sumber daya tak terbatas yang digunakan sebagai transportasi, ekstraksi sumber daya dan pembuangan limbah. Kegiatan manusia dan perubahan global mengakibatkan tekanan yang besar pada ekosistem laut dan mempengaruhi komponen rantai makanan akuatik, termasuk top predator seperti burung laut. Burung laut terkena berbagai ancaman antropologi seperti penangkapan burung laut dan upaya yang menyebabkan ancaman bagi populasinya, pembiakan dan kelangsungan hidup burung laut; polusi laut; adanya industri perikanan; serta perubahan iklim, pemanasan global dan keberadaan manusia di lokasi pembiakan burung laut. Ancaman tersebut memiliki kaitan global dengan konservasi dan pengelolaan ekosistem laut sehingga perlu penekanan pada ekologi spasial burung laut dalam menghadapi perubahan iklim.

Aktivitas manusia menyebabkan tingkat CO2 di atmosfer meningkat pesat sehingga terjadi efek rumah kaca yang menyebabkan meningkatnya suhu udara. Perubahan ini memiliki efek pada iklim laut utamanya terkait dengan produktivitas laut. Atmosfer dan sirkulasi laut merupakan sebuah keseimbangan, begitu juga dengan iklim bumi. Osilasi laut-iklim skala besar memiliki variabilitas spasial dan temporal yang substansial yang sulit diperkirakan. Rantai makanan laut merupakan konstruksi yang tidak stabil dan tetap rentan terhadap siklus reorganisasi yang sporadis, seperti sirkulasi laut dan atmosfer. Reorganisasi tersebut disebut juga dengan pergeseran rezim. Rangkaian peristiwa ini melambangkan kontrol bottom-up rantai makanan laut akibat variabilitas sirkulasi iklim laut yang berdampak pada produktivitas primer (fitoplankton) dan sekunder (zooplankton), ikan dan top predator laut seperti burung laut. Tetapi tidak semua rantai makanan laut dikendalikan dengan kontrol bottom-up, banyak bukti menunjukkan bahwa rantai makanan laut dapat dikontrol melalui efek top-down. Modus pengoperasian kontrol trofik dapat bervariasi sangat kuat pada ruang dan waktu dalam rantai makanan laut, dan  kontrol bottom-up oleh perubahan iklim belum tentu merupakan kekuatan utama. Tekanan perikanan yang intens pada ikan predator memodifikasi drastis kontrol top-down pada ekosistem ini. Informasi terbaru menunjukkan bahwa ancaman terbesar terhadap stok ikan pada saat dimangsa burung laut adalah kombinasi dari perubahan iklim dan overfishing.

Sumber:

Grémillet David and Boulinier Thierry. 2009. Spatial Ecology and Conservation of Seabirds Facing Global Climate Change: a Review.  Marine Ecology Progress Series 391:121-137. 

Laode Nurdiansyah – Department of Geophysics and Meteorology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

Manfaat Statistika dalam Meteorologi

2011
09.15

Dalam bidang meteorologi, statistika memiliki peranan yang besar utamanya dalam kajian klimatologi. Iklim merupakan sintesis, kesimpulan atau rata-rata perubahan unsur-unsur cuaca (hari demi hari dan bulan demi bulan) dalam jangka panjang di suatu tempat atau pada suatu wilayah. Sintesis tersebut dapat diartikan pula sebagai nilai statistik yang meliputi antara lain nilai rata-rata, maksimum, minimum, frekuensi kejadian, atau peluang kejadian dari cuaca. Cuaca dan iklim pada suatu wilayah dapat digambarkan oleh statistik, baik berupa rata-rata cuaca/iklim maupun unsur-unsur lain dari data cuaca/iklim antara lain intensitas radiasi surya, suhu udara, curah hujan, tekanan, angin dan sebagainya, dalam jangka pendek hingga jangka panjang. Informasi-informasi tersebut dapat disajikan menggunakan analisis statistik sederhana hingga analisis yang rumit untuk keperluan prediksi cuaca/iklim.

Banyak analisis statistika penting yang dapat diterapkan bahkan dibutuhkan dalam pengolahan data cuaca/iklim. Misalnya dalam analisis peluang, data cuaca/iklim dengan peluang tertentu dapat memberi gambaran yang lebih jelas dibandingkan dengan data rata-rata. Selain itu dengan teori peluang, ukuran dan derajat ketidakpastian hasil perhitungan atau dugaan suatu peristiwa dapat diketahui. Analisis peluang dapat juga digunakan untuk menentukan peluang terjadinya hujan pada suatu wilayah berdasarkan data-data pengukuran/observasi yang telah ada.

Disamping analisis peluang, analisis statistika lain yang sering digunakan dalam menganalisis data iklim adalah analisis homogenitas data iklim, pendugaan data hilang, analisis perubahan iklim. Data hilang dapat menimbulkan masalah ketidakhomogenan data atau bahkan dapat mengakibatkan data iklim tidak dapat dipercaya. Data iklim haruslah bersifat homogen (konsisten), artinya simpangan yang terdapat pada data semata-mata hanya diakibatkan oleh simpangan iklim atau cuaca bukan karena hal lain.  Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan kehomogenan data pada stasiun uji, yaitu metode run test, metode helmert dan metode kurva massa ganda sedangkan metode yang digunakan untuk menduga data hilang yaitu: metode rata-rata sederhana, metode rata-rata terbobot, metode kuadran empat, dan metode regresi linier. Perubahan iklim merupakan suatu bentuk perubahan pada suatu wilayah yang menyangkut unsur-unsur cuaca dalam jangka waktu yang relatif panjang sehingga beberapa metode yang digunakan untuk menganalisis terjadinya perubahan iklim, yaitu: uji rataan yang terdiri dari rataan sederhana dan uji Cramer, uji keragaman, dan uji trend yang terdiri dari trend Mam-Kendall dan trend Spearman.

Permasalahan yang sering dihadapi dalam analisis data iklim ialah masalah ketersediaan data. Seringkali dijumpai dalam banyak kasus, data iklim lebih banyak tersedia dalam bentuk data bulanan dibandingkan dalam bentuk harian. Kondisi ini menyebabkan kegiatan analisis yang memerlukan data harian sulit untuk dilakukan. Ini juga merupakan salah satu masalah yang harus diselesaikan menggunakan analisis statistika yaitu dengan teknik pembangkitan data menggunakan metode Epstein dan Fourier.

Selain itu, manfaat lain statistika bagi meteorologi/klimatologi ialah: untuk menunjukkan sifat-sifat penting dari data iklim termasuk pola dan model, menentukan awal musim hujan dan kemarau, menentukan curah hujan wilayah, peramalan banjir tahunan dengan teknik regresi berganda, menganalisis hubungan antara sesama  data iklim dengan data iklim lain dan lain-lain.

Referensi: Modul Kuliah Metode Klimatologi Tahun 2006 Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA-IPB

Laode Nurdiansyah – Department of Geophysics and Meteorology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

 

Membuat Pertanyaan

2011
09.13

Management Class (Kuliah Manajemen) – Departement of Management, College of Economics and Management – Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

(www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

Session 3

Bagaimana Stakeholder bekerja dalam sebuah organisasi? Apa pengaruhnya bagi keputusan manajerial dan budaya organisasi?

Laode Nurdiansyah – Department of Geophysics and Meteorology,  Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

Hasil Diskusi Kelompok

2011
09.13

Management Class (Kuliah Manajemen) – Departement of Management, College of Economics and Management – Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

(www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

Session 2

Kelas pengantar manajemen tentunya memiliki budaya. Apakah budaya itu berpotensi menghambat dosen? lihatlah tujuh dimensi organisasi. Pilihlah unsur kebudayaan itu, dan jelaskan!

Kelas pengantar manjemen tentunya memiliki budaya karena terdiri dari individu-individu. Namun ada unsur dari dimensi organisasi yang ada pada kelas manajemen menurut kami yang menghambat dosen yaitu orientasi hasil. Kelas pengantar manajemen terdiri dari mahasiswa-mahasiswa minor dari berbagai departemen dan mayor yang tentunya mengharapkan nilai akhir yang bagus. Dengan hanya memperhatikan orientasi hasil, secara tidak langsung kurang menitikberatkan pada proses. Sehingga dosen pun kesulitan untuk mengetahui apakah mahasiswa pengantar manajemen dapat menyerap ilmu dengan baik atau tidak.

Laode Nurdiansyah – Department of Geophysics and Meteorology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

Menjadi Seorang Manajer

2011
08.23

Management Class (Kuliah Manajemen) – Departement of Management, College of Economics and Management – Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

(www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

Session 1

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendengar istilah manajemen atau manajer. Untuk lebih memahami istilah tersebut, ada baiknya jika kita mendefinisikan dahulu istilah-istilah tersebut. Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno yaitu ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Menurut Ricky W. Griffin, manajemen adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan. Sedangkan efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Sehingga dengan kata lain, efektif menyangkut tujuan dan efisien menyangkut cara dan lamanya suatu proses mencapai tujuan tersebut. Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa manajer adalah orang yang bekerja sama dan memanfaatkan orang lain dengan cara mengoordinasikan dan mengintegrasikan aktivitas kerja untuk mencapai tujuan.

Ada empat hal dasar yang dilakukan oleh seorang manajer, yaitu: Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengarahan (Actuating/Directing), dan Pengawasan (Controlling). Perencanaan merupakan proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat  untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi. Pengorganisasian merupakan proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi. Pengarahan merupakan proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi. Sedangkan pengawasan merupakan proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan yang dihadapi.

Manager dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yang terdiri dari tingkatan paling atas hingga paling bawah, yaitu Top Managers, Middle Managers, First Line Managers, dan non Managerial Employees. Top Managers ialah orang yang mengoordinasikan suatu organisasi secara keseluruhan seperti Rektor, Ayah, Presiden, dll., Middle Managers dan First Line Managers ialah orang yang mengoordinasikan  orang lain di bawahnya dalam bidang tertentu misalnya Kepala Bagian atau Kepala Departemen, sedangkan non Managerial Employees bertugas mengoordinasikan diri sendiri dan apa yang dikerjakannya misalnya Karyawan. Setiap tingkatan memiliki pendekatan skills masing-masing. Top Managers memiliki pendekatan konsep berfikir, yang mengatur segala keputusan kebijakan. Middle Managers dan First Line Managers memiliki pendekatan humanis atau bekerja sama. Sedangkan terakhir, non Managerial Employees memiliki pendekatan teknis.

 

Laode Nurdiansyah – Department of Geophysics and Meteorology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

 

Mahasiswa sebagai Elemen Pemuda dalam Memajukan Kebudayaan

2011
08.23

oleh Laode Nurdiansyah*

ditulis pada 03 September 2009 jam 9:31

Generasi muda mempunyai posisi dan peran yang sangat penting dalam setiap episode perubahan bangsa ini. Sejarah telah mencatat posisi dan peran pemuda sebagai aktor perubahan sosial yang dimulai dengan sumpah pemuda yang akhirnya mempersatukan rakyat untuk melawan penjajahan, hingga lahirnya reformasi. Pemuda merupakan pewaris serta penerus estafet perjuangan bangsa, hal ini menuntut pemuda untuk mempersiapkan diri sebagai pemimpin bangsa di masa depan. Generasi muda tidak boleh hanya pasif menunggu estafet kepemimpinan tersebut, tetapi harus dibuktikan dengan kerja nyata oleh generasi muda. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa di pundak generasi mudalah nasib bangsa ini terletak. Pemuda merupakan cerminan dari masa depan bangsa.

Pemuda, menurut  UU No. 40/2009 tentang Kepemudaan adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16–30 tahun. Masuk dalam defenisi ini mahasiswa sebagai kelompok pemuda dengan jumlah sekitar 4,3 juta yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini merupakan aset sekaligus potensi yang besar untuk menggerakkan perubahan sosial di negeri ini, jika saja dapat dioptimalkan perannya. Secara kodrati, bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama, adat istiadat, bahkan budaya yang berbeda-beda. Dalam konteks ini, menarik untuk mempertanyakan posisi dan peran mahasiswa sebagai elemen pemuda dalam kaitannya dengan kebudayaan, yang akhir-akhir ini isu tentang pencaplokan budaya Indonesia oleh Malaysia begitu gencar diberitakan diseluruh media.

Di tengah arus pergeseran budaya, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda merupakan subjek sekaligus objek dari berbagai masalah terkait dengan kebudayaan. Sudah menjadi kenyataan bahwa mahasiswa adalah kelas menengah terdidik yang diharapkan sebagai aktor perubahan (agent of change) atau katalisator perubahan bangsa untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa ini, termasuk dalam menyikapi masalah kebudayaan. Untuk itu, diperlukan reposisi dan peran mahasiswa, meliputi: pertama, mahasiswa sebagai individu harus memiliki kesadaran (kesadaran kritis: meminjam istilah Paulo Freire) akan masa depan diri dan bangsa. Artinya, mahasiswa harus memiliki kesadaran bahwa di pundaknya terdapat amanat dan tanggung jawab besar untuk dapat memajukan bangsa ini melalui beragam cara.
Sebagai misal, memperluas wawasan serta meningkatkan kapasitas keilmuan dan prestasi sesuai dengan minat dan bidang keahlian masing-masing. Dengan demikian, diharapkan adanya kesadaran bersama antara mahasiswa dan masyarakat untuk ikut serta dalam proses memajukan bangsa.

Kedua, melatih kepemimpinan dan membangun kepekaan sosial. Melatih kepemimpinan dapat dilakukan dengan cara ikut serta dalam organisasi di kampus, baik intra maupun ekstra kampus. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan diri selaku calon pemimpin bangsa masa depan juga untuk mengasah kemampuan dan memperluas wawasan serta menanamkan kesadaran dan pengetahuan tentang tanggung jawab sosial untuk menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat luas.

Ketiga, rekonstruksi arah pergerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa selaku bagian dari gerakan sosial perlu melakukan gerakan intelektual serta gerakan moral. Gerakan intelektual mahasiswa dapat diwujudkan dengan revolusi pemikiran mahasiswa. Untuk itu, mahasiswa harus membiasakan untuk melakukan tiga tradisi penting, yaitu membaca, berdiskusi, dan menulis dalam menyikapi berbagai isu yang terkait dengan isu-isu tentang kemiskinan dan pengangguran, neoliberalisme, demokrasi, terorisme, globalisasi, termasuk kebudayaan. Gerakan moral bertujuan untuk menangkal pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa (local wisdom) akibat pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi utamanya di bidang informasi dan komunikasi.

Akhirnya sudah saatnya bagi pemuda dan mahasiswa untuk kembali mengambil posisi dan peran dalam memajukan kebudayaan Indonesia agar kita bangga terhadap keanekaragaman budaya sebagai identitas dan jati diri bangsa Indonesia.

*Mahasiswa Mayor Meteorologi Terapan, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.